Gen Z itu unik: super digital, kreatif, tapi juga super kritis. Mereka tumbuh di era internet nonstop, notifikasi nggak pernah berhenti, dan semua hal cuma sejauh satu swipe. YouTube dan TikTok jadi “TV baru”, dan tren bisa muncul, viral, terus hilang dalam hitungan jam.
Tapi Gen Z bukan cuma penonton. Mereka adalah culture driver. Apa yang mereka like hari ini bisa jadi tren internet besok. Karena itu, kalau brand mau benar-benar connect bukan sekadar lewat di feed, brand harus paham siapa mereka, bagaimana mereka berpikir, dan apa yang bikin mereka bilang, “Ini gue banget!”
Yuk kenalan lebih dekat dengan karakter Gen Z yang bikin mereka beda, sekaligus jadi dasar untuk bikin kampanye brand yang relevan dan resonate.
Ini Dia Karakteristik Gen Z yang Kamu Perlu Tahu
1. Digital Native & Serba Cepat
Gen Z tumbuh dengan akses internet unlimited. Mereka sekaligus bisa nonton video, chatting, belanja, sambil cari info di Google.Teknologi bukan “tambahan” buat mereka, itu bagian dari hidup sehari-hari. Mereka ingin semuanya responsif, visual, dan langsung kena di detik pertama.
2. Mengutamakan Keaslian & Transparansi
Gen Z menjunjung tinggi keaslian dan transparansi. Konten yang terlalu dipoles, terlalu scripted, atau terlalu “jualan banget” justru membuat mereka tidak berminat.Mereka lebih suka brand yang nunjukin sisi manusiawinya: proses bikin produk, cerita jujur, bahkan hal-hal yang nggak sempurna.
3. Peduli pada Nilai Sosial & Sustainability
Gen Z bukan cuma beli produk, tapi juga value. Mereka peduli isu lingkungan, etika kerja, inklusivitas, dan dampak sosial.Mereka suka brand yang punya pendirian dan benar-benar melakukan sesuatu meski kecil untuk dunia di sekitar mereka.
Riset oleh Deloitte (2025) menunjukkan bahwa 65% Gen Z melaporkan khawatir tentang lingkungan dan bersedia membayar lebih untuk produk/layanan yang sustainable.
4. Suka Berpartisipasi & Interaktif
Gen Z nggak betah cuma jadi penonton. Mereka pengen ikut bikin, ikut ngasih suara, ikut ngaruh. Mereka suka konten yang bisa mereka sentuh: challenge TikTok, voting packaging, request fitur, Q&A, AR filter, atau bahkan co-creation bareng brand.
5. Punya Attention Span Pendek (Tapi Fokus Saat Relevan)
Bukan berarti mereka nggak bisa fokus, tapi mereka punya radar kuat untuk mem-filter konten yang nggak relevan.Kalau tidak menarik dalam 1–3 detik, ya tinggal swipe. Tapi kalau topiknya relate? Mereka bisa menonton video 10 menit tanpa kedip.
6. Community-Driven
Gen Z suka rasa belonging. Mereka menemukan “rumah” di fandom, niche hobby group, komunitas beauty, gaming, hingga micro-interest seperti skincare ingredients atau journaling aesthetic. Brand yang bisa membangun ruang untuk komunitas bisa dapat engagement yang lebih organik, loyalitas lebih kuat, dan hubungan jangka panjang.
7. Lebih Percaya Influencer & Peer Review
Gen Z percaya pengalaman nyata, bukan klaim yang dibuat-buat.
Review jujur dari teman, micro-influencer, dan niche creator jauh lebih dipercaya dibanding iklan tradisional. Mereka mencari bukti, bukan janji.Influencer bagi Gen Z bukan “bintang”, tapi “teman yang kebetulan punya banyak followers.
Strategi Kampanye Brand Paling Efektif untuk Menjangkau Gen Z
1.Gunakan Storytelling yang Relatable & Insightful
Gen Z cenderung stay lebih lama pada konten yang “ngena” yang terasa dekat dengan keseharian mereka, entah itu tentang struggle kecil, humor receh, self-growth, dunia kerja, sampai hal-hal sederhana yang bikin mereka bilang, “wah ini gue banget.”
Storytelling yang relatable membantu brand terlihat lebih manusiawi dan membuat pesan lebih mudah diingat. Kuncinya adalah memahami insight perilaku Gen Z, lalu mengemasnya dalam cerita pendek yang personal dan natural.
2. Tampilkan Story, BTS, dan Hal-Hal Real
Gen Z suka lihat prosesnya: bagaimana produk dibuat, siapa tim di balik brand, dan keputusan apa aja yang dibuat.Cerita sederhana seperti “how we pack orders evey day” bisa jauh lebih engaging daripada iklan super-polished.
3. Komunikasikan Purpose Secara Konsisten
Bukan cuma campaign satu kali, tapi cerita yang konsisten. Kalau brand peduli lingkungan, tunjukkan perjalanan dan perubahannya, bukan hanya slogan.Gen Z menghargai progress, bukan perfection.
4. Rancang Kampanye Interaktif
Beri ruang agar mereka bisa ikut ambil bagian:
- challenge yang fun
- voting ide
- co-creation konten
- live session bareng creator
- user generated content
5. Buat Messaging yang Ringkas & Punchy
Gunakan bahasa yang ringan, relate, dan mudah diikuti. Format pendek kayak Reels, Shorts, dan TikTok adalah playground terbaik untuk mereka.
7. Kerjasama dengan Influencer Marketing
Karena mereka percaya pada suara manusia, bukan suara brand. Kolaborasi dengan creator yang niche-fit akan terasa lebih organic, lebih relevan, dan lebih dipercaya Gen Z.Creator membantu brand berbicara dalam bahasa yang Gen Z pahami tanpa terdengar memaksa.
Baca juga: 5 Alasan Mengapa Influencer Marketing Penting untuk UMKM
Dan di tengah karakter Gen Z yang sangat mengutamakan autentik, influencer marketing bisa jadi cara paling efektif untuk menjangkau mereka secara natural. Bukan cuma meningkatkan awareness, tapi membangun hubungan jangka panjang yang lebih personal dan lebih dipercaya.
Kalau kamu lagi cari influencer yang paling pas buat brand-mu, langsung pakai fitur Discovery dan Analyser dari Fair. Kamu bisa menemukan lebih dari 150 juta+ creator dari affiliate, nano, micro, sampai mega KOL dengan cepat, akurat, dan sesuai target audiens. Analisis performanya juga lengkap: ER, top audience, top content, dan banyak lagi.
Plus, ada Campaign Management yang bantu kamu tracking on going dan memprediksi performa campaign secara real-time.